Abuya Munfasir cahaya sufi
postingan oleh: Oshalter.blogspot.com
Assalamualaikum. Wr. Wb.
KH. Munfasir atau biasa dikenal Abuya Munfasir adalah salah satu tokoh ulama yang berasal dari desa baruqbug - Banten yang memiliki kharismati.
Beliau pernah menjadi dosen IAIN Jogja ini selanjutnya ‘uzlah hingga menjalani kehidupan sufi. Beliau makan dari yang ditanamnya sendiri, salah satunya singkong.
Beliau pernah menjadi dosen IAIN Jogja ini selanjutnya ‘uzlah hingga menjalani kehidupan sufi. Beliau makan dari yang ditanamnya sendiri, salah satunya singkong.
Cara hidup beliau mengingatkan hadits shohih Bukhari no. 1873 saat umat Islam dalam perpecahan hingga tidak berada dalam satu jama’ah. Nabi Muhammad saw bersabda:
فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض باصل شجرة حتى تدرك الموت وانت على ذلك
“Jauhilah semua kumpulan biar pun karena itu engkau sampai mengunyah akar-akar kayu sehingga engkau meninggal dunia dalam keadaan seperti itu”.
Tentu yang kita ketahui tidak banyak orang yang sanggup menjauhkan diri dari sifat keduniawian terutama di Indonesia. Meski begitu Abuya Munfasir tak pernah menutup diri atau menjauh dari keramaian. Dengan adanya tamu yang silih berganti menyambangi pesantren beliau. Mulai dari warga setempat, Ulama Nusantara serta para pejabat negara.
Salah satu keunikan pesantren asuhan Abuya Munfasir adalah menerapkan cara hidup bertasawuf, yang biasa kita ketahui beliau dan para santri tidak memakan apapun terkecuali hasil cocok tanam sendiri, menggunakan peci dari dahan pohon Kawung.
Pesantren yang tidak memiliki nama ini hanya menerima 40 santri dan tak ada satupun ada santriwati. Syarat menjadi santri Abuya Munfasir tergolong unik yaitu harus berpuasa selama 3 hari dan berbuka dengan air putih dan ubi.
Sistem pengajaran beliau kepada santri-santrinya tidak seperti pesantern pada umumnya. Abuya Munfasir mendidik para santri untuk memperbaiki akhlaq dengan tingkah laku. Pernah waktu pertama kali saya menyambangi pesantren beliau pada waktu itu merasa heran, karena saat saya tiba di pintu masuk pesantern, ada beberapa santri yang sedang duduk di gajebo sambil bertasbih, pada saat itu saya menghampiri bermaksud ingin bertanya tentang keberadaan Abuya Munfasir.
Pada akhirnya sebelum saya bertanya, para santri mulai menghindar satu persatu. Pertanyaan sempat muncul dalam pikiran saya, namun tak lama muncul Abuya Munfasir sambil tersenyum dengan wajah yang bercahaya menyejukan hati dan beliau memberi tahu kepada saya bahwa para santrinya sedang melakukan puasa berbicara. Sirna seketika pertanyaan dalam hati saya mendengar penjelasan dari sang guru.
Aura kewaliyan pada diri beliau pun tampak jelas terlihat. Siapapun yang memandang wajah beliau pasti bergetar, jiwa yang rindu akan kenampakan orang orang Soleh yang mengingatkan kita pada Sang Pencipta-Nya.
Setelah meninggalnya Abuya Dimyati (Abah dim) pandeglang- Banten. Abuya Munfasir menjadi rujukan para ulama ulama di Banten. Do'a yang beliau panjatkan selalu di sambut oleh semua kalangan yang ingin bertawasul melalui beliau.
Salah satu karomah beliau adalah lisannya yang mustajab. Pernah suatu ketika saya sendiri pernah Sofwan dan meminta beliau Mendokan kebaikan kepada saya.
Alhamdulillah, keanehan mulai muncul, ketika saya mengerjakan solat Dzuhur di luar nalar saya, seperti orang haus akan beribadah. Di hari pertama hati saya menolak untuk keluar dari masjid dan tidak ada satu pun solat fardu dan sunah yang tak saya kerjakan. Rasa haus, lapar, lelah serta kantuk tidak saya rasakan sekalipun. Kejadian itu berlangsung selam 1 Minggu berturut turut. Bukan hanya saya saja yang merasakan namun rekan saya pun merasakan hal yang sama.
Abuya Munfasir selalu memberi wasiat kepada seluruh santri santrinya dengan nasihat
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Lukman: 17)
Sebagian besar dari santri yang selesai mondok di ponpes beliau mengatakan ini ijasah yang Abah berikan kepada kami. Sungguh beliau sangat menyayangi santri -santrinya.
Semoga dari perjalanan beliau kita dapat pembelajaran yang Allah ridhoi.. Aamiinn.
Waullahu'alam bishowab.


Komentar